Tuesday, November 5, 2013

(REVIEW) TANAH SURGA...KATANYA

Source: Wikipedia

Judul: Tanah Surga...Katanya
Durasi: 90 Menit
Sutradara: Herwin Novianto
Produser: Deddy Mizwar, Gatot Brajamusti, Bustal Nawawi
Penulis: Danial Rifki
Studio: Citra Sinema
Pemeran: Ossa Aji Santosa, Fuad Idris, Ringgo Agus Rahman, Astri Nurdin, Ence Bagus, Tissa Biani Azzahra, Norman Akyuwen, Muhammad Rizky


Kemaren saya nyewa beberapa film dari rental, mumpung hari ini libur tanggal merah, salah satu yang baru selesai saya tonton berjudul Tanah Surga…Katanya. Film ini udah dirilis tahun 2012 lalu, tapi sayang saya baru punya kesempatan sekarang untuk menonton.


Review

Film ini mengangkat tema nasionalisme, menceritakan Salman, anak laki-laki yang tinggal di perbatasan Indonesia dan Malaysia dengan adik perempuan dan kakeknya, seorang veteran yang dulunya pernah berjuang melawan pasukan Gurkha yang membela Malaysia di perbatasan. Sedangkan ayahnya mengadu nasib dengan berdagang di negara tetangga, Malaysia.

Kakek Salman yang memiliki rasa cinta begitu besar terhadap negerinya, menolak ajakan ayah Salman untuk hijrah ke Malaysia meskipun di sana ia akan memperoleh perawatan kesehatan yang lebih baik dan dapat hidup lebih layak.

Film ini sangat menarik untuk ditonton, tidak menggurui namun memberikan kesan dan pesan yang mendalam bagi penontonnya. Selain mengharukan, juga menggelitik. Terlebih lagi dengan gaya kocak Agus Ringgo yang berperan sebagai Anwar, yang kemudian malah lebih dikenal dengan sebutan Dokter Intel.

Saya suka dengan puisi yang dibacakan oleh Salman, yang sebagian bait-baitnya disadur dari lirik lagu Kolam Susu milik Koes Plus. Isinya mengandung sedikit sindiran untuk segelintir petinggi yang hanya memikirkan kepentingan mereka sendiri.

“Bukan lautan, hanya kolam susu.” Katanya.
Tapi kata kakekku, hanya orang-orang kaya yang bisa minum susu.
“Kail dan jala cukup menghidupimu.” Katanya.
Tapi kata kakekku, ikan-ikan kita dicuri oleh banyak negara.
“Tiada badai, tiada topan kau temui.” Katanya.
Tapi kenapa ayahku tertiup angin ke Malaysia?
“Ikan dan udang menghampiri dirimu.” Katanya.
Tapi kata kakek, awas ada udang dibalik batu.
“Orang bilang tanah kita tanah surga.”
“Tongkat kayu dan batu jadi tanaman.” Katanya.
Tapi kata Dokter Intel, belum semua rakyatnya sejahtera.
Banyak pejabat yang menjual kayu dan batu, untuk membangun surganya sendiri.

Untuk DVD, ada bonus feature Behind The Scene nya. Film ini mengambil setting tempat di daerah perbatasan antara Kalimantan Barat dengan Malaysia, masih terbilang jauh dari Kalimantan Timur, tempat tinggal saya. Para pemainnya menggunakan bahasa khas melayu. Dan satu fakta yang baru saya tahu, masyarakat di daerah perbatasan ternyata memang menggunakan mata uang ringgit sebagai alat pembayaran. Dunia perfilman Indonesia seharusnya lebih sering memproduksi film bertema nasionalisme seperti ini, mengingat saat ini semangat kebangsaan sudah semakin meluntur.

Quote:

Apapun yang terjadi jangan sampai kehilangan cinta pada negeri ini. 

❤❤❤❤❤

0 komentar:

Post a Comment

All comments will be moderated, please write your feedback politely. Opinions, suggestions, criticisms are welcomed. I would really appreciate any of your responses, thank you ヾ(*゚ー゚)

 

Wonderland Template edited by Ayu