Saturday, January 12, 2008

QUE SERA, SERA

Source: Pinterest

Takut, cemas, waswas...inilah yang pertama kali dirasakan ketika memasuki sebuah dunia baru yang sama sekali berbeda. Ingin rasanya melarikan diri dari kenyataan; namun jauh di dalam hati, ada suara samar yang menyemangati diri untuk terus melangkah maju. Don't be a loser, fight on! Saya paham, sebenarnya ini hanyalah sebuah fase awal, terasa asing karena belum terbiasa.

Dunia kerja begitu jauh berbeda dengan dunia sekolah, pekerjaan yang diberikan oleh atasan merupakan tanggung jawab yang harus diemban sendiri; tidak ada lagi istilah contek mencontek seperti di sekolah; dan juga tidak bisa mengandalkan orang lain—untuk membantu menyelesaikan karena mereka memiliki tanggung jawab pekerjaan yang berbeda.

Saya bersama beberapa teman yang baru lulus SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) mendapat panggilan untuk mengikuti tes di sebuah perusahaan atas rekomendasi dari pihak sekolah. Teman akrab saya berhasil melewati tes seleksi dan diterima di perusahaan ini, sayangnya saya tidak...hahaha.

Perusahaan selanjutnya yang saya tuju—bergerak di bidang distributor, sebenarnya salah seorang teman saya lah yang direkomendasikan oleh pihak sekolah, tapi dikarenakan ia sudah mendapatkan pekerjaan—jadilah saya yang menggantikan posisinya. Awalnya, saya merasa kurang percaya diri karena harus bersaing dengan pelamar lain yang notabene merupakan lulusan perguruan tinggi. Ketika sesi wawancara, saya sempat ditanya apakah saya berniat melanjutkan kuliah apa tidak. Saya jawab jujur, iya. Pimpinan sempat menyangsikan saya, karena bekerja sambil kuliah tentunya berat dan beliau tidak ingin pekerjaan kantor menjadi terhambat karena urusan kuliah. Saya sempat berpikiran jika nama saya sudah pasti dicoret, mengingat pimpinan perusahaan sama sekali tidak antusias dalam sesi wawancara, belum lagi keteledoran saya yang lupa membawa surat lamaran.

Pimpinan perusahaan sempat menyampaikan jika dalam waktu 3 hari setelah wawancara tidak ada panggilan; maka lamaran pekerjaan saya ditolak. Ya sudahlah...saya ikhlas diterima atau tidaknya, persiapan saya memang kurang. Jadi ketika seminggu lewat dan saya dalam proses mengajukan lamaran pekerjaan di perusahaan lain; saya dihubungi oleh personalia perusahaan distributor sebelumnya dan diminta untuk masuk bekerja terhitung esok harinya. Tidak ada yang tidak mungkin jika Allah berkata Kun Faya Kun, bukan?

Rasanya bahagia mendengar berita ini, saya bersyukur bisa mengurangi sedikit beban yang dipikul oleh kedua orang tua saya. Dulu—saya dengan salah seorang teman sekelas berencana untuk kuliah di luar daerah, tapi saya sadar rencana saya itu hanya akan menambah beban ibu dan bapak. Saya paham betul bagaimana kondisi finansial orang tua saya—yang masih harus membiayai pendidikan kedua adik saya, tidak mungkin saya egois memaksakan kehendak sementara orang tua saya bersusah payah membanting tulang untuk mencari nafkah.

Source: Pinterest

Saya sendiri masih belum tahu, apakah jalan yang saya tempuh ini sudah benar atau tidak. Tapi saya yakin doa-doa saya dan kedua orang tua pastilah didengar Allah, dan saya bersyukur...begitu bersyukur karena segalanya terasa dimudahkan. Selang sebulan, tepat setelah saya mendapatkan gaji pertama; saya mendaftarkan nama saya agar bisa mengikuti perkuliahan. Yang begitu sangat saya syukuri—saya dipertemukan dengan teman-teman kuliah yang begitu luar biasa baiknya.

Beberapa bulan sudah berlalu, saya mulai terbiasa dengan dunia baru ini. Syukurlah, saya bisa membagi waktu antara bekerja dan kuliah. Dua-duanya begitu penting bagi saya, semoga jalan yang saya tempuh ini adalah jalan yang terbaik. Aamiin!

0 komentar:

Post a Comment

All comments will be moderated, please write your feedback politely. Opinions, suggestions, criticisms are welcomed. I would really appreciate any of your responses, thank you ヾ( ´ー`)

 

Wonderland Template edited by Ayu