Saturday, January 7, 2017

(REVIEW) THE GIRL ON THE TRAIN

Source: Goodreads

Judul: The Girl On The Train
Penulis: Paula Hawkins
ISBN: 9786020989976
Tanggal Terbit: September 2015
Penerbit: Noura Books
Halaman: 440


Sinopsis

Rachel menaiki kereta komuter yang sama setiap pagi. Setiap hari dia terguncang-guncang di dalamnya, melintasi sederetan rumah-rumah di pinggiran kota yang nyaman, kemudian berhenti di perlintasan yang memungkinkannya melihat sepasangan suami istri menikmati sarapan mereka di teras setiap harinya. Dia bahkan mulai merasa seolah-olah mengenal mereka secara pribadi. “Jess dan Jason,” begitu dia menyebut mereka. Kehidupan mereka-seperti yang dilihatnya-begitu sempurna. Tak jauh berbeda dengan kehidupannya sendiri yang baru saja hilang.

Namun kemudian, dia menyaksikan sesuatu yang mengejutkan. Hanya semenit sebelum kereta mulai bergerak, tapi itu pun sudah cukup. Kini segalanya berubah. Tak mampu merahasiakannya, Rachel melaporkan yang dia lihat kepada polisi dan menjadi terlibat sepenuhnya dengan kejadian-kejadian selanjutnya, juga dengan semua orang yang terkait. Apakah dia telah melakukan kejahatan alih-alih kebaikan?


Review

Sang tokoh utama, Rachel—merupakan wanita yang hidupnya berantakan gara-gara kecanduannya akan alkohol. Akibat kebiasaan buruknya itu, suaminya memutuskan untuk pergi meninggalkannya. Tak hanya itu, ia juga dipecat dari firma humas tempatnya bekerja. Setelah bercerai, ia tinggal bersama Cathy—teman semasa kuliahnya yang merasa iba dengan nasibnya dan berbaik hati menawarinya untuk menempati kamar cadangan di flat miliknya.

Rachel berpura-pura pergi bekerja setiap harinya, agar Cathy tidak mengetahui jika sebenarnya ia telah kehilangan pekerjaan. Ia menaiki kereta setiap pagi dan malam seperti rutinitasnya dahulu ketika masih bekerja. Selama duduk di gerbong, ia sering mengamati rumah pasangan Hipwell yang berada di pinggir rel dari balik jendela kereta. Di mata Rachel, mereka berdua merupakan pasangan suami istri ideal yang bahagia, yang mengingatkannya akan rumah tangganya dengan mantan suaminya, Tom Watson. Dan kebetulan, rumah pasangan Hipwell berdekatan dengan rumah Tom—yang kini telah menikah dengan Anna dan memiliki seorang anak perempuan.

Suatu hari, Rachel mendapati kenyataan bahwa Megan Hipwell bukanlah istri yang baik seperti yang ia sangka selama ini. Dan tak lama berselang, dikabarkan jika Megan menghilang dan jasadnya ditemukan sudah tidak bernyawa lagi. Saksi kunci dari kasus tersebut adalah Rachel—karena pada malam ketika Megan menghilang, Rachel terlihat berkeliaran di jalan dekat rumah keluarga Hipwell. Sayangnya, Rachel tidak bisa mengingat apapun karena pada malam itu ia kehilangan kesadaran akibat alkohol yang diminumnya.

Novel ini diceritakan dari sudut pandang Rachel, Megan dan Anna secara bergantian. Karakter-karakternya bermasalah semua, yang saya suka mungkin cuma Cathy. Dia ini tipikal orang yang peduli sama teman, satu-satunya yang membuka pintu rumah lebar-lebar di saat Rachel dalam kondisi terpuruk, padahal mereka berdua gak terlalu akrab sewaktu kuliah. Dan, Rachel kadang penasaran bagaimana Cathy itu selalu bisa tau kalo dia minum alkohol walaupun cuma sedikit dan sembunyi-sembunyi.

Ada pelajaran yang bisa diambil dari novel ini, sesuatu yang dibangun di atas kebohongan tidak akan berakhir dengan baik. Suatu kebohongan akan ditutupi terus-menerus dengan kebohongan-kebohongan yang lain tanpa henti, dan setelah itu hanya tinggal menunggu bom waktu sebelum semua akhirnya terungkap.


Quotes:

Setiap hari kukatakan kepada diri sendiri untuk tidak memandang, tapi setiap hari aku memandang. Aku tak kuasa, walaupun tidak ada sesuatu pun yang ingin kulihat di sana, walaupun segala yang kulihat akan menyakitiku. (Hal 8)

Siapa bilang mengikuti kata hatimu adalah sesuatu yang baik? Itu egoisme murni, keegoisan tertinggi. (Hal 40)

Setiap kali aku merasa hendak meraih momen itu, ingatan itu melayang kembali ke dalam bayang-bayang, persis di luar jangkauanku. (Hal 57)

Tapi, itu tak kulakukan karena aku harus mempertahankan kejernihan pikiranku. Sudah lama aku tidak punya sesuatu yang dipikirkan dengan kepala jernih. (Hal 85)

Dia tidak pernah mengerti bahwa seseorang mungkin saja merindukan sesuatu yang tidak pernah dimilikinya, dan bersedih karenanya. (Hal 104)

Untuk kali pertama setelah waktu yang lama, aku tertarik pada sesuatu selain penderitaanku sendiri. Aku punya tujuan. Atau setidaknya aku punya pengalih perhatian. (Hal 113)

❤❤❤❤❤

0 komentar:

Post a Comment

All comments will be moderated, please write your feedback politely. Opinions, suggestions, criticisms are welcomed. I would really appreciate any of your responses, thank you ヾ( ´ー`)

 

Wonderland Template edited by Ayu