Monday, February 16, 2015

(REVIEW) SUMMER IN HELL

Source: Goodreads

Judul: Summer in Hell
Penulis: Scott Smith
ISBN: 9789793972251
Tanggal Terbit: September 2007
Penerbit: Dastan Books
Halaman: 548


Sinopsis

Sejumlah arkeolog menghilang tanpa jejak di sebuah situs reruntuhan kuno suku Maya di Meksiko. Enam orang turis ikut tertarik untuk menuju ke situs itu. Mereka tidak tahu ada sesuatu yang menunggu mereka di sana. Sesuatu yang bisa menghantarkan mereka pada malapetaka…

Empat orang turis America—Eric, Jeff, Amy, dan Stacy—berlibur di Cancun, Meksiko. Di sana mereka berteman dengan Mathias yang berkebangsaan Jerman dan Pablo yang berasal dari Yunani. Mathias mengajak mereka bertualang melintasi hutan menuju sebuah situs reruntuhan kuno peninggalan suku Maya guna menyusul adiknya yang ikut bersama rombongan arkeolog ke sana.

Namun sesampainya di situs misterius itu, bukannya menemukan rombongan arkeolog, mereka malah menerima ancaman dari suku Maya setempat yang akan membunuh mereka jika mereka meninggalkan situs tersebut. Dan tanpa disadari, sesuatu yang mematikan mengintai di sana. Sesuatu yang menikmati ketakutan dan keputusasaan mereka… yang hendak menghabisi mereka secara perlahan dan menyakitkan, satu demi satu…




Review

Awalnya saya gak punya niat untuk membaca sewaktu sekilas ngeliat covernya, kurang begitu menarik, pikir saya. Tapi dua baris komentar Stephen King yang tertera di sampul depan, spontan membuat saya bertanya-tanya seberapa seram sih ceritanya.

Prolog dibuka dengan sekelompok muda mudi asal Amerika yang berkunjung ke Cancún, Meksiko selama tiga pekan. Jeff yang hendak menikmati kebebasan terakhir sebelum mulai kuliah pada musim gugur, mengusulkan untuk menghabiskan liburan dengan berjemur di pantai. Namun kemudian, ia merasa bosan dengan aktivitas monoton tersebut—dan akhirnya tertarik untuk ikut bersama dengan Mathias, pria Jerman yang hendak menjelajahi reruntuhan tambang tua di Cobá untuk menjemput adiknya, Henrich.

Jeff tak luput untuk mengajak ketiga kawannya dan bersama mereka ikut pula, Pablo, si orang Yunani. Pablo bahkan sempat meninggalkan salinan peta untuk kedua kawannya, menyuruh mereka untuk datang bergabung di situs tersebut.

Mereka mendapati gangguan-gangguan kecil sebelum tiba di tempat tujuan; mungkin ini semacam pertanda kalau rencana mereka nantinya bakal mengundang malapetaka. Stacy—yang topi dan kacamatanya dicuri saat berada di stasiun, Amy yang mendapat peringatan dari sopir truk, serta pria botak Mayan yang berusaha menghalau mereka dari jalan setapak tersembunyi.

Sayangnya tidak ada yang memahami pertanda itu, hingga salah seorang dari mereka tanpa sadar telah melangkah terlalu jauh. Sekali melewati tanah terbuka, mereka tidak dapat kembali karena orang-orang Mayan mengepung mereka di sepanjang lingkaran dasar jalan keluar dan tidak segan-segan untuk menghabisi nyawa mereka.

Mereka yang tidak punya pilihan, akhirnya meneruskan perjalanan ke atas bukit. Di sana mereka menemukan tenda-tenda usang tanpa penghuni, juga sebuah lubang terowongan bawah tanah yang nantinya menjadi penyebab awal penderitaan Pablo. Insting mereka baru merasakan adanya bahaya ketika menemukan tulang belulang Henrich dan para arkeolog yang tiba lebih dahulu sebelum mereka.

Alur ceritanya tertata dengan begitu baik, terjemahannya bagus dan enak dibaca. Plotnya terasa semakin menarik, ketika pembaca sampai di bab ketiga. Di sini harapan mereka kembali timbul ketika mereka mendengar suara ponsel yang berasal dari dalam lubang. Tapi ternyata, belakangan baru ketahuan kalau sulur-sulur hijau lah yang membuat suara—menirukan bunyi ponsel untuk menjebak mereka. Sulur-sulur itu bukan tumbuhan biasa, tidak hanya berpikir dan bergerak, tumbuhan merambat itu mampu menirukan semua suara dan bau, bahkan membuat perangkap untuk mengadu domba mereka semua.

Membayangkan mereka bertahan hidup melawan tumbuhan merambat, saya pikir bakal membosankan. Tapi Smith mampu meramu skenario menjadi nuansa penuh teror psikologis; karakter-karakternya juga dideskripsikan dengan cukup realistis; sifat mereka, apa yang mereka pikirkan dan lakukan. Karakter yang paling membekas di ingatan saya yakni, Jeff—dengan cara berpikirnya yang logis. Bahkan saking logisnya, Jeff pernah dengan tenangnya menawarkan sebuah inisiatif untuk mengawetkan mayat agar nantinya bisa dijadikan alternatif untuk bertahan hidup ketika mereka kelaparan dan kehabisan bahan makanan, hiii…

Saya sarankan untuk menguatkan mental apabila hendak membaca novel berbau thriller ini, karena Anda akan menemui banyak adegan-adegan ekstrim sekaligus menjijikan.


Quote:

“Bagaimana kita bisa mengatakan dengan pasti bahwa saat itu bukan hari ini?”

❤❤❤❤

0 komentar:

Post a Comment

All comments will be moderated, please write your feedback politely. Opinions, suggestions, criticisms are welcomed. I would really appreciate any of your responses, thank you ヾ( ´ー`)

 

Wonderland Template edited by Ayu